Work Program

Catatan Pertemuan:

1.Pembukaan – EGM DDS – Arief Mustain:

·Pertemuan ini merupakan follow up dari meet-up 1 yang telah dilakukan sebelumnya.

·Sudah dibuatkan touch point berupa web IDRC yang dapat dimanfaatkan untuk virtual forum & kolaborasi.

·Saat ini hampir di semua korporasi sedang melakukan “Corporate Innovation Lab”. Kenapa ini dibutuhkan? Hampir semua korporasi mengalami turbulensi bisnis dimana core bisnisnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Laporan keuangan Q3 Telkom sebenarnya target tercapai, namun respon terhadap saham sempat menurun karena Telkomsel yang menjadi penyumbang terbesar Telkom Group mengalami penurunan karena sebagian besar voice yg didapat Telkomsel berpindah ke Whats App.

·What is the next big think Telkom agar sustain di bisnisnya? Telkom membangun Innovation Lab. untuk melakukan eksperimentasi di level korporasi. Dulu korporasi melakukan investasi untuk menjalankan bisnisnya. Meet up seperti ini diyakini dapat menyusun agenda riset yang lebih konkret. Tidak menutup kemungkinan muncul  ide-ide dalam meet-up ini yang dapat diusulkan untuk dimasukkan ke dalam RKAP 2018 DDS.

·Menurut Telkom ada 2 kunci yaitu: Eksperimentasi & Kolaborasi, karena Telkom sadar dahulu Telkom menguasai bisnis dunia telekomunikasi namun saat masuk ke dunia digital banyak kapabilitas yang belum dapat diisi Telkom karena merupakan area baru.

·Dengan meet up ini diharapkan Telkom dapat berkolaborasi dengan komunitas riset untuk mengisi area-area tsb.

·Di level mana kolaborasi masih bisa dilakukan, bagaimana mode operasinya? Ini yang masih harus didiskusikan.

·Diharapkan dari pertemuan ini ada kolaborasi riset yg bisa difollow up  hingga dibawa ke fase hilirisasi inovasi meskipun nantinya membutuhkan waktu 2-3 tahun ke depan.

 

2.Seminar 1:  Tri Susanto (Researcher, PT. Telkom), Judul: " LTE-Unlicensed "

·Ada isu penolakan LTE-U terkait kekhawatiran akan menambah padatnya bandwidth dan mengganggu performansi LTE. Sejalan dengan waktu & perkembangan teknologi, maka LTE-U diijinkan untuk dikembangkan. Bahkan GSMA saat ini melaporkan perkembangan LTE-U yang semakin membaik.

·Di Indonesia sendiri LTE-U belum terlalu berkembang.

·LTE-U adalah LTE yang menggunakan spektrum Unlicensed.

 

Pertanyaan 1: (Khoirul Anwar, Telkom Univ)

·Menurut Bapak, manakah yang lebih bagus LTE-U dibandingkan dengan wifi?

·Wifi ada yang menggunakan frekuensi 2.4GHz & 5GHz. LTE bisa menganggu wifi mungkin untuk yang menggunakan frekuensi 5GHz. Kalo menurut saya lebih bagus LTE dibandingkan wifi dari segi teknologi. Seandainya wifi diberi MIMO pun akan lebih bagus dari LTE, dilihat dari sisi frekuensi di Indonesia.

Jawaban:

·Menurut pendapat saya LTE–U lebih bagus karena dari sisi stabilitas.

·Namun teknologi wifi akan terus berkembang dan sepertinya era ke depan antara Wifi & LTE tidak terpisahkan, akan terus bekerjasama.

·Kalau di negara lain bisa menggunakan 4 band frekuensi. Kalau di Indonesia terkait regulasi masih menunggu keputusan pemerintah.

·LTE berkembang terus terutama terkait coexistance untuk enhance LTE.

Pertanyaan 2:

·Apakah dengan LTE-U perlu membeli handset baru?

Jawaban:

·Harus menggunakan terminal baru untuk mendukung chipset di frekuensi 5 GHz. Salah satu kunci sukses LTE-U adalah penyediaan terminal.

 

Pertanyaan 3: (Aji Widodo-Telkom)

·Terkait pertanyaan ke-1 yang menanyakan bagus mana LTE-U dengan Wifi. Menurut pendapat saya, LTE & wifi environmentnya berbeda. LTE outdoor, wifi indoor,sehingga mode komunikasinya berbeda serta pemanfaatannya juga berbeda. Sehingga menurut saya akan tergantung casenya, untuk case tertentu akan lebih bagus LTE, untuk kasus lain akan lebih baik wifi.

·Jawaban: 

LTE & wifi memang environmentnya berbeda. Namun LTE-U di beberapa negara cenderung digunakan untuk indoor. Jadi hampir sama dan berdampingan dengan wifi.

 

3. Seminar 2: Affan Basalamah, S.T (Head of ICT Development at ICT Directorate, ITB)"Development of Internet Protocol for Researchers & Industry Practitioners - 20 years of Higher Educations Networks in Institut Teknologi Bandung and Beyond"

·Ketika internet menjadi mainstream maka tidak ada yang konsisten duduk mengembangkan teknologi internet namun hanya menjadi end-user. 

·Industri perlu sesuatu yang disrupt, dengan mengikuti forum atau seminar adalah untuk mengetahui “What is next” di industri internet?

·Dalam seminar ini akan men-share apa yang sudah dilakukan terkait internet di lingkungan ITB serta Opportunity apa yang dishare.

 

Pertanyaan 1: (Rudi S, Telkom DDS)

Bagaimana pandangan bapak terkait IP khususnya untuk IoT apalagi ke depan akan mengarah ke IoE.

 Jawaban:

·IoT menurut saya adalah bahasa sapu jagat yang menghubungkan banyak keilmuan.

·Untuk mengkoneksikan semua things dengan internet bisa wireless, wireline, dll.

·Ilmu IoT mencakup konektivitas dari things ke gateway, cloud, big data dlsb.

·IoT terkait juga dengan fungsionalitas, regulasi, sekuriti.

·Ekosistem IoT sangat besar, saya sebagai orang network hanya melihat bagian connectivitynya saja. Ada momen kita bisa memaksakan standard kepada vendor agar mengikuti aturan yang sudah kita pilih dan tetapkan.

 

4. Seminar 3: Ing. Wiwiek Yuliani, MT (Direktorat Inovasi Industri, Ristekdikti), " Kebijakan Hilirisasi Inovasi di Industri "

·Ada 2 yang akan disampaikan dalam seminar ini yaitu:Kebijakan Dikti serta Program Pendanaan Inovasi.

·Misi Ristekdikti memiliki 2 goals, yaitu: Untuk Pendidikan dan Inovasi (detail dapat dilihat di website Ristek)

·Anggaran untuk riset bisa dikatakan hanya sedikit dan dikelola oleh Riset & Inovasi.

 

Pertanyaan-1: AgusTel-U

·Apakah program inovasi itu spesifik hanya PTN saja, apakah PTS bisa berpartisipasi bagaimana?

Jawaban:

·Karena anggarannya terbatas sehingga yang boleh berpartisipasi hanya PTN saja. Jumlah PT di Indonesia sekitar 4000-an terlalu banyak jika dibuka untuk semua PT dengan demikian anggaran tsb hanya dibuka untuk PTN saja. Kalau dana industri boleh dari luar PTN namun anggarannya juga tidak terlalu besar hanya ratusan juta saja.

 

Pertanyaan-2: Enjang (UPI)

·Anggaran inovasi dari pemerintah turun dibanding tahun lalu. Mengapa turun?apa alasannya?apakah ada faktor kualitas inovasi yang mempengaruhi?

Jawaban:

·Th 2017 sudah sepakat mengelola inovasi dengan anggaran sekian namun ditengah jalan anggaran dipotong oleh kemenkeu. Komposisi 20?ri APBN untuk pendidikan tidak bisa diubah2 (hanya untuk dikbud dan kemenag).sementara anggaran inovasi tidak ada di UU sehingga dapat dikurangi sesuai kebijakan pemerintahan. Ini yang menjadi pertimbangan pemerintah (Kemenkeu) memilih anggaran inovasi yang dikurangi.

 

5. Seminar 4: Dr. Eng. Khoirul Anwar ST.Meng (Director Center for Advance Wireless Technologies Telkom University), " Tren Riset Broadband di Asia Pasific" 

·Prioritas penelitian/inovasi sudah disampaikan Ristekdikti tadi cukup bermanfaat untuk menjadi acuan dalam mengajukan proposal usulan anggaran.

·Yang akan disampaikan dalam seminar ini adalah terkait trend riset broadband di Asia Pasific antara lain 5G Technology & Railway Technology.

 

Pertanyaan: Arief HilmiUNPAD

·Bagaimana adopsi teknologi di Indonesia? Good news or bad news?

Jawaban: 

·Kalau terkait teknologi telekomunikasi untuk mengejar 5G mungkin agak terlambat.

·Jika riset terkaitt railway sepertinya masih bisa dikatakan on track dan masih bisa mengejar teknologi baru yang diprediksi muncul tahun 2022. 

·Yang paling bagus kita sekarang mulai siap2 dengan teknologi baru,mungkin LTE-R dengan mulai melakukan  riset  untuk persiapan indonesia mengadopsi teknologi.

·Saya ingin mengkatagorikan sebagai good news dan kita harus tetap semangat.

 

6.   Wrap–Up

·Kira-kira apa yang akan dilakukan jika ada meet up yang ke-3?

·Usulannya full day meeting. Dari 4 seminar hari ini sebenarnya ada PR dari 4 pembicara yang dibawa kembali ke instasi masing2. Contohnya untuk university bisa melakukan riset MIMO di railway. Bagi industri, jika tidak menemukan dalam meet up ini bisa mengusulkan ide yang disampaikan di meet up ke-3 nanti.

·Usulan agenda:

Pagi: keynote (seminar dengan topik tertentu)

Sore: presentasi institusi/instansi – cukup title & abstrak- 10 menit tiap instansi. Pembicara 1 orang sementara penulis bisa 3 orang. Outputnya kita dibuat berupa dokumen hasil dari meetup ke-3 atau white paper.

Kalau sukses, next meet up bisa diextent menjadi 2 hari, dst dengan melibatkan goverment, universitas, dan industri serta jika memungkina juga menjadi ajang merekrut karyawan (contoh kasus meet up yang ada di Jepang).

Peserta nantinya akan dibagi menjadi 3 grup/katagori sesuai interest yang sudah dipilih oleh masing-masing peserta .

Pertanyaan dari LIPI:

<!-- [if !supportLists]-->·Pada meet up 1 ada penawaran riset bersama. LIPI juga ingin belajar bagaimana riset berjalan di Telkom. Mungkin bisa berupa kolaborasi riset.

 Jawaban:

<!-- [if !supportLists]-->·Riset2 yang disampaikan pada meet up 1 tsb merupakan riset yang akan dilakukan oleh unit Researcher DDS. sampai saat ini riset tsb masih berjalan di DDS namun lingkupnya masih internal Telkom.

<!-- [if !supportLists]-->·Terkait kolaborasi riset akan didiskusikan lebih lanjut dalam bentuk apa kolaborasinya.

 

7.   <!--[endif]-->Presentasi Website IDRC (Anna Lumumba)

<!-- [if !supportLists]-->·Website IDRC diperuntukkan bagi komunitas riset       sehingga diharapkan semua dapat berkontribusi untuk   mempublikasi kegiatan dan tulisannya. Website ini       menghubungkan antara publikasi dan peneliti.

<!-- [if !supportLists]-->· Dalam websiter IDRC juga tersedia forum diskusi untuk  diskusi secara virtual.

 

8.      <!--[endif]-->Penutupan: EGM DDS (Arief Mustain)

<!-- [if !supportLists]-->·DDS sudah beberapa kali melakukan B2B dengan LIPI melalui timnya Pak Yan namun belum dalam bentuk kerjasama riset. Inisiatif riset bisa dilakukan bersama.

<!-- [if !supportLists]-->·Ada beberapa yang sebenarnya secara riset sudah ada hasilnya namun tidak mudah untuk dibawa ke komersialisasi. Untuk itu di telkom ada inkubator & akselerator. Ada sekitar 171 startup yang dikelola oleh DDS. Startup harus free dari pekerjaan lain dan mendapat funding darui Telkom. Berdasatkan pengalaman Ide2 bahkan sampai prototipe pun sulit untuk dibawa ke komersialisasi. Untuk ide yang dari luar mulai disiapkan inkubasinya jika sudah sampai bisnis model Telkom punya MDI yg tugasnya meng-inject investasi. Ada sekitar 20 startup di seluruh dunia yg sudah siap difunding seria A & B.

<!-- [if !supportLists]-->·Apabila LIPI  ingin riset bersama, perlu didiskuian jika akan dikomersialisasi penemunya harus dilisensing. Pengalaman di Tel-u biasanya tahapan ini berhenti di BTP. Kalau mau diinkubator diatur sendiri licensingnya antara founder, dosen, dan startup (mahasiswa yg sudah lulus namun belum bekerja).

<!-- [if !supportLists]-->·Dengan demikian diharapkan para resercher tetap tenang melakukan riset tanpa takut idenya diambil tanpa mendapat licensing.